Apakah diharamkan menyentuh mushaf bagi orang yang berhadats?

mushafAda beberapa amalan yang diharamkan bagi orang yang berhadast untuk melakukannya dikarenakan kemuliaan dan kedudukan amalan tersebut. Di antara pengharaman ini ada yang berlaku baik dalam hadast besar dan hadast kecil, maupun hadats besar saja.

Perihal Menyentuh Mushaf
Dalam hal ini ada dua pendapat. Asy Syaikh Shalih Fauzan dalam Mulakhas Al Fiqhi menyatakan bahwa diantara hal yang diharamkan atas orang yang berhadast, baik pada hadast besar maupun hadast kecil antara lain adalah menyentuh mushaf Al Qur’an. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah madzhab jumhur dan kesepakatan Imam Empat. Mereka berdalilkan dengan ayat

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang telah disucikan. [QS. Al Waqi’ah]

Dan juga hadist Amr Ibnu Hazm yang diriwayatkan oleh An Nasa’i ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengirim surat kepada ahlu Yaman

. لا يمس المصحف إلا طاهر. رواه النسائي وغيره متصلا

Tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang suci
. [HR. Nasa’i]

Dan ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah dan juga Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’. Belai menukilakn ucapan Ibnu Taimiyah

هو مذهب الأئمة الأربع

Ini adalah madzhab Imam Empat

Dan ucapan Ibnu Hubairah

أجمعوا ( يعني : الأئمة الأربعة ) أنه لا يجوز للمحدث مس المصحف

Mereka bersepakat (yakni Imam Empat) bahwa tidak boleh bagi orang yang berhadast untk menyentuh mushaf

Di sana ada pendapat lain bahwa menyentuh mushaf tidak mengapa bagi orang yang berhadats dikarenakan ayat لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ . Al Muthohharun yang dimaksud adalah para malaikat sebagaimana yang ditafsirkan oleh kebanyakan mufassirin, di antaranya Ibnu Katsir. Yakni bahwa tidaklah menyentuh Al Qur’an yang ada di Lauhul Mahfuzh kecuali pada malaikat.

Adapun hadist yang diriwayatkan oleh An Nasa’i di atas, Asy Syaukani menyatakan bahwa penyebutan suci padanya masih bersifat umum dan belum diketahui secara jelas apakah yang dimaksud dengan suci. Suci dalam pengertian syar’i bisa berarti bebas dari hadats, bebas dari najis, atau bebas dari kesyirikan. Maka untuk mengamalkan hadits ini secara pasti dibutuhkan nash lain yang mengkhususkan definisinya. Sedangkan seorang muslim pada asalnya adalah suci berdasarkan hadist

عن حذيفة ؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لقيه وهو جنب . فحاد عنه فاغتسل . ثم جاء فقال : كنت جنبا قال ” إن المسلم لا ينجس

Dari Hudzaifah: bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menemuinya dalam keadaan ia junub. Kemudian dia menjauh dari beliau. Maka beliau bersabda “Sesungguhnya seorang muslim tidaklah najis” [HR. Muslim]

Sehingga hadist yang yang berbunyi “Tidak boleh menyentuh mushaf kecuali seorang yang suci” dibawa kepada pemahaman “Tidaklah boleh menyentuh mushaf kecuali seorang muslim”. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Al Albani, Ibnu Hazm dalam kitabnya Al Muhalla, dan beberapa ulama lain dari kalangan ahlu zhahir, dan juga Syaikh Muqbil. Pendapat ini juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengirim surat tersebut, dinegri Yaman memang masih banyak orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab.

Berdasarkan kedua perbandingan kedua hujjah di atas, nampak bagi kami bahwa yang kuat adalah pendapat yang kedua. Wal Ilmu Indallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s