Mengenal Dasar-dasar Yang Dapat Membatalkan Keislaman Seseorang

Kufur dengan Ucapan

Keluarnya seseorang dari keislaman atau kembalinya seseorang dari keislamannya kepada kekafiran disebut dengan riddah. Adapun murtad adalah sebutan bagi orang yang terjatuh dalam perkara riddah. Seseorang bisa keluar dari keislaman dikarenakan ucapannya, keyakinannya, perbuatannya, atau dengan keraguan. Bercabang dari keempat hal ini, muncullah berbagai pembatal-pembatal keislaman yang cukup banyak. Akan tetapi sayangnya sebagian orang bodoh mendakwa orang-orang yang berbicara atau mempelajari tentang pembatal-pembatal keislaman ini sebagai takfiri (orang-orang yang berpemahaman mudah mengkafirkan)

Berikut ini adalah dasar-dasar pembatal keislaman

1.  Kufur dengan Ucapan tanpa Paksaan

Yang dimaksud disini adalah seseorang mengucapkan ucapan kufur atau syirik tanpa paksaan seuatu apapun yang dapat mengancam nyawanya atau dapat pula mengancam keselamatannya, baik secara serius ataupun bercanda!

Dalilnya

وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ

Dan sungguh mereka telah mengatakan kalimat kekafiran dan mereka pun kafir setelah keislaman mereka [QS. at Taubah: 73]

dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang orang-orang yang berkata “kami tidak tidak melihat orang yang seperti para qurra’ kita, mereka itu paling dusta lisannya paling besar perutnya, dan paling takut dalam peperangan” dan yang mereka maksudkan adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Allah Ta’ala berfirman

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan apabila kalian bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka katakan (niscaya mereka menjawab) “Hanya saja kami ini bergurau dan bermain-main”. Katakanlah “Apakah dengan Allah, dan ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya kalian saling berolok-olok? Jangan beralasan! Sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian” [QS. At Taubah: 65-66]

Sampai-sampai disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang-orang yang meminta maaf dengan beralasan bahwa mereka main-main tersebut memegangi tali kekang kendaraan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di sepanjang jalan. Namun beliau tidak memperdulikannya sembari membacakan ayat

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Katakanlah “Apakah dengan Allah, dan ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya kalian saling berolok-olok? Jangan beralasan! Sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian”

Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjelaskan bahwa dalam ayat ini terkandung pelajaran bahwa seseorang yang mengucapkan perkataan kufur atau syirik dapat mengkafirkan pelakunya walaupun dilakukan sebagai candaan saja. Ini juga merupakan bantahan kepada kaum murji’ah yang mengatakan bahwa seseorang tidak bisa menjadi kafir dengan ucapan kufurnya sampai dia benar-benar meyakini apa yang ia ucapkan itu. [lihat Syarh Nawaqidh Al Islam hal. 21 cet. Riyadh]

Termasuk dari kekafiran dengan ucapan adalah seseorang mengucapkan doa   meminta perlindungan khusus kepada selain Allah Azza wa Jalla.

Oleh karenanya barang siapa mengucapkan perkataan kufur atau syirik, maka dia kafir kecuali dengan terpaksa dalam keadaan yang dapat mengancam nyawa dan keselamatannya, namun di dalam hatinya tetap tenang dengan keimanan.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. [QS. An Nahl: 106 – 107]

2.  Kufur dengan Keyakinan

Yakni seseorang meyakini di dalam hatinya sesuatu yang dapat membatalkan keislamannya, seperti orang yang meyakini tidak wajibnya shalat dan menganggap bahwa itu tidak ada nilainya. Mereka menganggap bahwa itu hanya ritual biasa, seperti halnya anggapan pada munafiqin. Mereka melakukan amalan tersebut semata-mata secara lahiriah tanpa keyakinan di dalamnya, padahal mereka juga mengucapkan dua kalimat syahadat. Maka mereka ini kafir berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

Jika datang kepadamu (Muhammad) orang-orang munafiq, mereka berkata “kami bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah” sedangkan Allah tahu bahwa sesungguhnya engkau adalah rasul-Nya. Dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafiq itu benar-benar dusta. Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai tameng, maka mereka pun meyimpang dari jalan Allah [QS. Al Munafiqun: 1-2]

Juga firman Allah Ta’ala

Mereka berkata dengan lisan-lisan mereka apa yang tidak ada di hati mereka [QS. Al Fath: 11]

Maka seseorang yang berkeyakinan dengan keyakinan kufur maka dia kafir walaupun tanpa diucapkan atau diperbuat dan walaupun ia melakukan amalan-amalan yang baik seperti shalat, jihad, shodaqoh, haji, dan lain-lain, juga walaupun ia mengucapakan dua kalimat syahadat.

3.  Kufur dengan perbuatan

Contohnya yakni seseorang menyembelih untuk selain Allah Ta’ala atau sujud kepadanya, seperti kepada kuburan orang shalih atau apapun. Jika seseorang melakukan ini, maka dia kafir meski tanpa diucapkan. Hal ini dikarenakan penyembelihan dan sujud merupakan ibadah dan ibadah itu tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah saja. Barang siapa yang menyerahkan satu saja ibadahnya kepada selain Allah menjadi kafir meski mereka melakukan amalan-amalan yang disyariatkan seperti shalat, puasa, shodaqoh, haji, membaca Al Qur’an dan sebagainya.

4.  Kufur dengan Keraguan

Keraguan (syak) berarti kebimbangan. Apabila seseorang meraguakan dalam hatinya apakah yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu benar atau tidak, apakah di sana ada hari perhitungan atau tidak, apakah di sana ada neraka dan surga atau tidak, maka ia menjadi kafir dengan keraguannya tersebut meski ia shalat, shodaqoh, haji, dan sebagainya.

Namun perlu dibedakan antara ragu yang dimaksud disini dengan sesuatu yang terbesit di dalam hati. Jika seseorang pada suatu saat terbesit di dalam hatinya keraguan, maka itu adalah bisikan syaithan, dan itu tidak samapi mengkafirkan pelakunya selama keraguan itu tidak sampai dibangun menjadi sebuah keyakinan dan ia meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala. Keraguan yang dimaksud disini adalah seperti orang yang meyakini “Bisa saja khabar-khabar dari Rasulullah tersebut benar atau bisa juga salah” atau seseorang melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan untuk berjaga-jaga kalau saja yang di khabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu benar adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s