Keutamaan Ilmu dalam Al-Qur’an

Penulis : Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad

Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan ulama dengan ilmu, yang telah menjadikan mereka sebagai pewaris para nabi dengan apa yang mereka bawa, yang mereka sebarkan, dan yang mereka amalkan.

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata yang tidak ada sekutupun bagi-Nya. Dialah Ilah yang diibadahi di bumi dan di langit. Dialah yang memuliakan hamba-Nya dengan berbagai kenikmatan dan kenyamanan yang tidak terhitung. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, sosok yang paling pantas bagi kita untuk memberikan kecintaan dan loyalitas, orang yang paling berhak dengan sebutan yang dan pujian yang baik.

Ya Allah limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan atas beliau, juga atas keluarga beliau yang baik lagi mulia, dan juga atas para sahabat beliau, orang-orang terbaik lagi utama, dan merekalah para wali yang tinggi. Karuniakanlah juga shalawat atas orang-orang yang datang setelah mereka, yang berjalan di atas jalan mereka, yakni orang-orang yang bersih hatinya dan terbimbing untuk mengucapkan kata-kata dan pujian yang baik kepada para sahabat Nabi, yang mana mereka mengatakan, “Rabb kami, ampunilah kami, dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami (para sahabat) dengan keimanan. Dan janganlah jadikan pada hati kami kebencian terhadap orang-orang yang beriman itu. Rabb kami, Engkau-lah yang Maha Lembut lagi Maha Penyayang

Amma ba’du. Sesungguhnya kebaikan yang kehidupan menjadi makmur dengannya dan yang waktu-waktu menjadi tersibukkan dengannya adalah menyibukkan diri dengan Kitabullah Azza wa Jalla dan sunnah rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, baik dengan mempelajarinya maupun mengajarkannya. Yang demikian itu, bersamanya pulalah amalan yang shalih yang dihasilkannya berupa kebaikan di dunia dan di akhirat. Setiap apa yang datang datang dalam Al Qur’an dan Sunnah, dan ucapan-ucapan para ulama baik berupa sanjungan maupun pujian terhadap ilmu dan pemiliknya, maka sesungguhnya yang dimaukan adalah ilmu Al Qur’an dan Sunnah yang diriwayatkan dari para Shahabat dan yang mengikuti mereka. Sebagaiman Ibnul Qoyyim pernah bertutur dalam Nuniyyah-nya,

Ilmu itu adalah apa yang difirmankan Allah, apa yang disabdakan rasul-Nya, dan apa yang diucapkan oleh para Shahabat yang penuh akan kearifan.

Inilah dia warisan kenabian yang diperuntukkan kepada siapa yang menghendakinya, yang barang siapa yang mengambilnya, maka sungguh dia telah mengambil keberuntungan yang amat besar, yang hanya bisa didapatkan dengan kemauan yang tinggi dan tuntutan yang tinggi pula. Oleh karenanya, saya memandang perlunya penulisan kalimat-kalimat yang ringan ini, seputera keutamaan ilmu dan pemiliknya, serta apa yang semestinya kita lakukan dalam menuntut ilmu tersebut. Saya memohon kepada Allah agar denganya saya memperoleh kemanfaatan, demikian pula para menuntut ilmu. Dan saya memohon agar memberikan kepada seluruhnya, pemahaman agama dan ketegaran diatas kebenaran. Sesungguhnya dialah yang Maha Pemberi lagi Maha Mulia.

Keutamaan Ilmu dan Orang yang Berilmu dalam Al Qur’anul Karim.

Telah disebutkan dalam Al Qur’anul Karim sejumlah ayat yang menunjukkan akan keutaman ilmu dan para pemiliknya, berikut penjelasan tentang kemuliaan mereka dan tingginya kedudukan mereka. Di antaranya adalah ayat

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ٣:١٨

Allah mempersaksikan bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia. Demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu mempersaksikannya. Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Ali Imran ayat 18]

Dalam ayat ini terdapat keterangan akan keutamaan orang-orang yang berilmu karena Allah menyebutkan persaksian mereka bersamaan dengan persaksian-Nya dan juga persaksian para malaikat-Nya, bahwasanya Dialah sesembahan yang benar, yang tidak diperkenankan ibadah kecuali kepada-Nya. Persaksian ini mencakup seagung-agung dzat yang bersaksi, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri, dan juga mencakup seagung-agung perihal yang dipersaksikan dengannya, yakni perihal hak peribadatan, yang mana hanya Dia-lah yang khusus berhak diserahkan ibadah. Adapun pengikutan persaksian para malaikat dan orang-orang yang berilmu setelah persaksian dari Allah tentuya menunjukkan atas keutaman malaikat dan orang-orang yang berilmu ini.

Allah Azza wa Jalla juga menyatakan,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui? [QS. Az Zumar ayat 9]

Makna dari ayat di atas adalah bahwa orang-orang yang berilmu dan yang memiliki keutamaan ilmu itu berbeda dengan yang selain mereka karena mereka –dengan ilmu yang mereka miliki, mereka berjalan menuju Allah dengan kebenaran, di atas pengetahuan yang mendalam. Mereka mengajak kepada yang selain mereka di atas petunjuk. Oleh karenanya, tidak sama antara mereka yang mengetahui kebenaran, dimana mereka saling mengharap dan memberikan faidah, dengan orang yang bodoh, tidak mengetahui akan kebenaran.

Firman-Nya yang lainnya,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا ٢٠:١١٤

Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku” [QS. Toha ayat 114].

Dalam ayat ini juga ada dalil tentang keutamaan ilmu karena Allah Ta’ala memerintahkan nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam untuk meminta tambahan ilmu dari-Nya. Berkata Ibnu Hajar rahimahullah dalam Al Fath (1/141), “Firman-Nya Azza wa Jalla, ‘katakanlah: Wahai Rabb-ku tambahkanlah ilmu kepadaku’ jelas sekali menunjukkan akan keutamaan ilmu karena Allah Ta’ala tidak memerintahkan nabi-Nya untuk meminta tambahan dari suatu apapun pun kecuali tambahan ilmu”.

Juga firman-Nya Azza wa Jalla,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat orang-rang yang beriman di antara kalian dan juga orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat [QS. Al Mujadilah ayat 11].

Dalam ayat yang mulia ini terdapat pula dalil akan terangkatnya derajat orang yang beriman dan orang yang diberikan ilmu di antara mereka. Sisi pendalilan akan keutamaan orang-orang yang berilmu adalah kenyataan bahwa pada nash, terdapat penyebutan tentang mereka setelah penyebutan orang yang mukmin padahal orang-orang yang berilmu itu sendiri termasuk orang yang mukmin. Hal ini termasuk apa yang kita kenal dengan istilah, “Mengikutkan penyebutan hal yang khusus setelah hal yang umum”.

Juga firman-Nya Azza wa Jalla,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Hanya saja orang yang paling takut kepada Allah adalah para ulama [QS. Fathir ayat 28].

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang berilmu, merekalah yang paling takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Ini dikarenakan Allah telah memberikan kepada mereka ilmu dan pemahaman terhadap agama yang mewariskan pada diri mereka perasaan takut dan pendekatan diri. Demikianlah yang menunjukkan akan keutamaan mereka ini.

Juga firman-Nya Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, “Taatilah Allah dan taatilah rasul serta ulil amri di antara kalian” [QS. An Nisaa ayat 59].

Ulil amri pada ayat di atas adalah para ulama dan pemerintah. Ulama didengar dan ditaati dengan apa yang mereka terangkan dari perkara-perkara agama, sedangkan pemerintah didengar dan ditaati dengan apa yang mereka perintahkan selama itu bukan merupakan kemaksiatan kepada Allah Azza wa Jalla. Di antara yang menguatkan tafsir bahwa ayat tersebut mencakup ulama maupun pemerintah adalah Al Qurthubi dan Ibnu Katsir dalam kitab tafsir keduanya. Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya, “Telah berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwasanya Ulil amri di antara kalian, maksudnya adalah ahli fiqih dalam agama”. Demikian pula Mujahid, Atha, juga Hasan Al Bashri serta Abul Aliyah, dimana mereka menyatakan “Ulil amri di antara kalian”, maknanya adalah para ulama.

Ayat ini mencakup juga orang-orang yang berilmu dalam kaitannya dengan mendengar dan taat kepada mereka pada apa yang mereka sampaikan dari perkara-perkara agama Allah.

Juga firman-Nya Azza wa Jalla,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٢١:٧

Bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu apabila kalian tidak mengetahui [QS. Al Anbiya ayat 7]

Ayat ini menunjukkan ilmu karena mereka – orang-orang yang berilmu itu, merupakan tempat rujukan dalam menjelaskan mana yang benar dan mana yang bathil, mana yang halal dan mana yang haram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s