Seputar Puasa Qodho, Puasa Sunnah, dan Puasa yang Dibenci atau Diharamkan

A.    Meng-qodho’ Puasa
Jika seorang muslim tidak berpuasa atau membatalkan puasanya di suatu hari di bulan ramadhan tanpa udzur, maka wajib baginya bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, karena hal tersebut termasuk perkara yang amat berat dan kemungkaran yang amat besar. Selain bertaubat dan memohon ampun, diwajibkan juga baginya meng-qodho’ (mengganti) puasanya itu sebanyak hari yang dia batalkan puasanya itu.12
 
Adapun jika ia tidak berpuasa karena udzur, seperti haid dan nifas, sakit, safar, atau yang udzur-udzur yang lain yang diperbolehkan, maka yang wajib baginya hanya meng-qodho’.

Puasa qodho tidak harus dilakukan segera, tetapi bisa dilakukan kapan pun selama belum masuk ramadhan berikutnya. Namun, dianjurkan untuk menyegerakannya karena hal ini bisa mempercepat tertunaikannya tanggungan dan lebih menjaga seorang hamba.

Bisa jadi, seseorang terus-menerus mendapati lagi hal yang menghalanginya untuk berpuasa qodho, seperti sakit atau yang semisalnya; hingga datang ramadhan berikutnya. Maka dalam keadaan ini, itu termasuk udzur baginya dan dia bisa meng-qodho-nya setelah ramadhan berikutnya itu. Akan tetapi, apabila ia menunda-nunda hingga datang ramadhan berikutnya tanpa udzur, maka selain harus meng-qodho-nya, ia juga harus memberi makan satu orang miskin untuk tiap harinya. 13

Puasa qodho tidak disyaratkan harus berturut-turut hari-harinya. Baik berturut-turut atau terpisah-pisah, keduanya sah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Maka barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka gantinya di hari-hari yang lain [QS. Al Baqarah 184]

Dalam ayat ini Allah tidak mempersyaratkan hari-hari yang lain itu harus berturut-turut. Kalau saja itu merupakan syarat, tentu akan dijelaskan dalam ayat tersebut.

B.    Puasa Sunnah
Di antara hikmah dan kemurahan Allah awj kepada para hambanya, Dia menjadikan bagi mereka amalan-amalan yang sunnah, yang mirip dengan amalan wajib. Yang demikian itu menjadi tambahan ganjaran dan pahala bagi orang yang mengamalkannya, dan penutup kekurangan atau cacat yang terjadi pada amalan yang wajib. Sebelumnya telah disebutkan secara makna bahwa “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti, amalan wajib bisa disempurnakan dari amalan nafilah (sunnah)”.

Adapun hari-hari yang disunnahkan berpuasa antara lain

1.      Puasa 6 hari bulan syawal
Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al Anshari r.a. beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa ramadhan kemudian diikuti dengan berpuasa sebanyak enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun  penuh’” [HR. Muslim no. 1164]

2.    Puasa arafah bagi selain jamaah haji
Berdasarkan hadits Qatadah r.a. beliau berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Puasa arafah yang, aku berhadap Allah akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya” [HR. Muslim no. 1164]

Adapun orang yang sedang berhaji, tidak disunnahkan puasa arafah, karena Nabi tidak berpuasa di hari itu dan orang-orang pun mengikuti beliau. Selain itu, pada haji lebih ditekankan untuk banyak-banyak ibadah dan berdoa.

3.    Puasa asyura
Nabi saw pernah ditanya tentang puasa di hari asyura, maka beliau pun bersabda, “Aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun sebelumnya” [HR. Muslim no. 1162 dalam hadits yang panjang].

Di anjurkan juga puasa satu hari sebelumnya (yakni tanggal 9 Muharram), berdasarkan sabda beliau saw, “Kalau saja (tahun depan), kematian tidak mendahuluiku, tentu aku akan berpuasa juga di tanggal 9-nya” [HR. Muslim no. 1133] dan juga sabda beliau, “Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. Selisihilah orang-orang yahudi” [HR. Ahmad 241/1, Ibnu Khuzaimah no. 2095 dengan sanad yang lemah. Ada riwayat sahih yang serupa, namun mauquf dari Ibnu Abbas]

4.    Puasa senin dan kamis setiap minggu
Berdasarkan hadits Aisyah r.a.h., “Nabi saw menaruh perhatian pada puasa senin dan kamis” [HR. Ahmad 201/5, Tirmidzi no. 745] dan juga sabda Rasulullah saw, “Amalan-amalan akan diangkat pada hari senin dan kamis. Maka aku suka jika amalan-amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa” [HR. Tirmidzi no. 741, Nasai 332/1, Abu Dawud no. 2436 dan Tirmidzi menghasankannya. Hadits ini juga disahihkan oleh Albani dalam Shahih Tirmidzi no. 596]

5.    Puasa tiga hari setiap bulan
Berdasarkan sabda beliau kepada Abdullah bin Amr r.a., “Berpuasalah setiap bulan tiga hari karena satu kebaikan nilainya seperti 10 kalinya. Dengan begitu puasa ini sama dengan puasa setahun” [HR. Bukhari no. 1976]. Juga dari Abu Hurairah r.a., kata beliau, “Kekasihku (Nabi saw) mewasiatkan kepadaku tiga hal, puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat dhuha, dan witir sebelum tidur” [HR. Bukhari no. 1981]

Dianjurkan tiga hari tersebut adalah pada Ayyamul Bidh, yakni tanggal 13, 14 dan 15; berdasarkan hadits Abu Dzar r.a. kata beliau, Rasulullah saw bersabda, “barang siapa di antara kalian berpuasa setiap bulannya, maka berpuasalah pada tiga hari ayyamul bidh” [HR. Ahmad 152/5, Nasai 222/4. Lafazhnya dari Ahmad dan disahihkan oleh Albani dalam Shahih Nasai no 2277-2281]

6.    Puasa sehari dan berbuka sehari
Berdasarkan sabda beliau, “Seutama-utama puasa (selain puasa wajib) adalah puasanya Dawud alaihis salam. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari” [HR. Bukhari no. 1986]. Ini termasuk puasa sunnah yang paling utama.

7.    Puasa di bulan muharram
Berdasarkan hadits Abu Hurairah r.a. beliau berkata, Nabi saw bersabda, “Puasa yang paling utama setelah ramadhan adalah puasa di bulan Allah, muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam” [HR. Bukhari no. 1163]

8.    Puasa sembilan hari di bulan Dzulhijah
Ini dimulai dari awal bulan dzulhijah dan berhenti di hari ke sembilan, dan itu adalah hari arafah. Ini berdasarkan keumuman hadits yang datang tentang keutamaan amalan di hari-hari itu. Beliau saw bersabda, “Tidak ada hari beramal shalih yang paling dicintai oleh Allah selain di sepuluh hari ini” [HR. Bukhari no. 969] dan puasa termasuk amal shalih

C.   Puasa yang Dibenci dan Diharamkan

1.      Mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa
Hal ini dikarenakan perbuatan tersebut termasuk syiar jahiliah. Kaum jahiliah mengagungkan bulan ini. Namun apabila ia berpuasa dengan bulan-bulan lainnya, maka tidak apa-apa karena hal tersebut tidak menunjukkan pengkhususan bulan Rajab untuk puasa.

Ahmad bin Kharsyah bin Al Hirr meriwayatkan, “Aku melihat Umar bin Khattab memukul orang-orang yang mencukupkan puasa di bulan Rajab sampai memberi mereka makan. Kemudian beliau berkata, “Makanlah! Sesungguhnya itu adalah bulan yang diagungkan orang-orang jahiliah” 14

2.    Mencukupkan hari Jumat untuk berpuasa
berdasarkan sabda beliau saw, “Janganlah kalian berpuasa pada hari Jumat kecuali engkau juga berpuasa satu hari sebelumnya atau satu hari setelahnya” [HR. Bukhari no. 1985 dan Muslim no. 1144]

3. Mencukupkan hari sabtu untuk berpuasa15

Berdasarkan sabda beliau saw, “Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu kecuali puasa yang diwajibkan atas kalian”16.

Maksudnya adalah larangan mencukupkan atau mengkhususkan berpuasa di hari tersebut saja. Adapun jika ia berpuasa dengan hari lainnya maka tidak mengapa; berdasarkan sabda beliau kepada Ummul Mukminin, Juwairiyah, ketika hari Jumat dan ia sedang berpuasa. Beliau bertanya, “Apakah engkau kemarin berpuasa juga?”. Ia menjawab,“Tidak”. Lalu beliau bertanya lagi, “Apakah engkau besok hendak berpuasa?”. Ia menjawab lagi, “Tidak”. Kemudian beliau bersabda, “Kalau begitu batalkanlah” [HR. Bukhari no. 1986]

Perkataan beliau “Apakah engkau hendak berpuasa besok?” menunjukkan bolehnya berpuasa di hari sabtu bersamaan dengan hari lainnya. Imam At Tirmidzi rahimahullah berkata setelah mengeluarkan hadits Nabi di atas, “Makna makruh dalam hal ini adalah bagi seseorang yang mengkhususkan hari sabtu semata untuk berpuasa karena yahudi mengagungkan hari sabtu”

4. Puasa di hari syak (yang meragukan), yaitu hari ke-30 bulan Sya’ban

Ini terjadi ketika kondisi langit tidak memungkinkan untuk melihat hilal. Adapun jika langit cerah, maka tidak ada lagi keraguan.

Dalil akan keharamannya adalah hadits Ammar r.a., “Barang siapa yang berpuasa di hari yang meragukan, maka ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (beliua saw)”17. Juga sabda beliau, “Janganlah kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi orang yang puasanya berpapasan dengan hari itu, maka ia berpuasa di hari itu” [HR. Bukhari no. 1914]

Maknanya, janganlah mendahului ramadhan satu hari dengan maksud berhati-hati (kalau-kalau hilal ramadhan telah terlihat). Apabila puasanya itu berkaitan dengan ru’yat maka tidak perlu memberatkan diri. Adapun apabila yang dimaukan adalah puasa tertentu, maka tidak mengapa, karena yang demikian itu bukan dalam rangka menyambut ramadhan.

Dikecualikan dalam larangan ini, puasa qodho’ dan puasa nadzar mengingat wajibnya hukum kedua puasa tersebut.

5. Beruasa di 2 hari Ied (Iedul Fithri dan Iedul Adha)

Berdasarkan hadits Abu Said Al Khudri r.a., “Nabi saw melarang berpuasa di hari fithri dan hari nahar” [HR. Bukhari no. 1991] dan juga hadits Umar bin Khatthab r.a., “Itu adalah dua hari yang dilarang oleh Rasulullah untuk berpuasa, yakni hari dimana kalian berbuka dan hari dimana kalian melakukan sembelihan” [HR. Bukhari no. 1990]

6. Beruasa di hari tasyriq

Hari tasyriq yaitu tiga hari setelah hari Nahar (Iedul Adha), yaitu tanggal 11, 12, dan 13. Ini berdasarkan sabda beliau saw tentang hari tersebut, “Itu adalah hari makan dan minum dan berdzikir kepada Allah awj” [HR. Muslim no. 1141]. Juga sabda beliau, “Hari arafah, hari nahar, dan hari tasyriq merupakan hari raya orang-orang Islam dan itu merupakan hari-hari makan dan minum” [HR. Tirmidzi no. 777, beliau berkata: hasan shahih dan disahihkan oleh Albani dalam Shahih Tirmidzi no. 260]

Dikecualikan dalam larangan ini, bagi orang yang berhaji tamathu’ dan haji qiran apabila tidak mendapati sembelihan; berdasarkan hadits Aisyah dan Ibnu Umar, keduanya berkata, “Tidak ada keringanan untuk bisa berpuasa di hari-hari tasyriq kecuali bagi siapa yang tidak mendapati sembelihan” [HR. Bukhari no. 1997 dan 1998]

Catatan kaki

12.  Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa orang yang meninggalkan puasa tanpa udzur wajib baginya bertaubat dengan taubat nasuha, tanpa ada kewajiban meng-qodho. Dijelaskan oleh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- bahwa ibadah yang memiliki waktu awal dan akhir,  apabila seorang meninggalkannya dengan sengaja tanpa udzur, maka tidak ada tuntutan baginya untuk meng-qodho’nya, namun wajib baginya untuk bertaubat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s