Tuntunan dalam I’tikaf

Definisi I’tikaf dan Hukumnya

Definisinya

Secara bahasa, I’tikaf berarti berkomitmen dengan sesuatu dan mengurung diri di dalamnya. Adapun secara syariat, ia bermakna: komitmen seorang muslim mumayyiz untuk tinggal di dalam masjid dalam rangka melakukan ketaatan kepada Allah awj.

Hukumnya

I’tikaf disunnahkan dan merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah awj; berdasarkan firman Allah Ta’ala

أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud” [QS. Al Baqarah 125]. Ayat ini menunjukkan bahwa i’tikaf telah disyariatkan, bahkan pada umat-umat terdahulu. Juga firman Allah Ta’ala,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
Dan janganlah kalian dekati istri-istri kalian sementara kalian sedang ber-i’tikaf di dalam masjid [QS. Al Baqarah 187]

Dari Aisyah r.a.h., “Bahwasanya Nabi senantiasa ber-i’tikaf di sepuluh hari terakhir ramadhan, sampai Allah mewafatkan beliau” [HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1172]

Kaum muslimin telah bersepakat akan disyariatkannya i’tikaf dan bahwa ia termasuk sunnah. I’tikaf tidak wajib kecuali jika seorang muslim itu sendiri yang berkomitmen untuk mewajibkannya kepada dirinya sendiri, seperti halnya nadzar. Perihal disyariatkannya i’tikaf ini telah disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, dan kesepakatan para ulama.

B. Syarat-syarat I’tikaf
I’tikaf merupakan ibadah, yang padanya terdapat syarat-syarat, antara lain

1. Muslim, mumayyiz, berakal
Tidak sah i’tikaf orang kafir, orang gila, dan anak kecil yang belum mencapai usia mumayyiz. Adapun dewasa dan laki-laki, itu bukan merupakan syarat. Oleh karenanya, sah i’tikaf anak yang belum baligh namun telah mumayyiz. Begitu pula dengan wanita.

2. Niat
Berdasarkan sabda beliau saw, “Sesungguhnya segala sesuatu itu bergantung niatnya” [HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]. Oleh karenanya, hendaknya i’tikaf diniatkan untuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah awj

3. Dilakukan dimasjid
Berdasarkan firman Allah Ta’ala

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِد
Dan kalian ber-i’tikaf di dalam masjid [QS. Al Baqarah 187]

Juga berdarkan perbuatan Nabi saw, dimana beliau ber-i’tikaf di masjid dan belum pernah dinukilkan bahwa beliau pernah ber-i’tikaf di tempat lain.

4. Masjid yang digunakan beri’tikaf adalah masjid shalat jamaah
Ini jika i’tikafnya akan berpapasan dengan shalat wajib dan orang yang ber-i’tikaf itu adalah orang yang dikenai kewajiban shalat berjamaah18. Seandainya ia beri’tikaf di masjid yang tidak didirikan di situ shalat berjamah, maka tentu akan berkonsekuensi shalat berjamaahnya akan ditinggal, atau jika tidak, ia akan terus-menerus meninggalkan tempat i’tikafnya setiap kali masuk waktu shalat.

Adapun wanita, sah i’tikafnya baik di masjid yang didirikan shalat berjamaah atau tidak. Itu pun dibolehkan asal tidak menimbulkan fitnah. Apabila i’tikafnya itu bisa menimbulkan fitnah, maka dilarang.

Yang lebih afdhol lagi apabila masjid yang dipakai ber-i’tikaf adalah masjid yang ditegakkan padanya shalat jumat. Akan tetapi itu bukan merupakan syarat.

5. Suci dari hadats besar
Tidak sah i’tikaf bagi orang yang sedang dalam keadaan junub, haid, atau nifas. Ini dikarenakan dengan hadats besar, seseorang tidak boleh tinggal di masjid.

Adapun berpuasa, itu bukan termasuk syarat i’tikaf; berdasarkan riwayat Ibnu Umar r.a.m, beliau berkata, “Ya Rasulullah, ketika di masa jahiliah dulu aku pernah bernadzar untuk ber’i’tikaf di masjidil haram selama semalam”. Rasulullah saw menjawab, “Tunaikanlah nadzarmu” [HR. Bukhari no. 2032 dan Muslim no. 1656].

Andaikata puasa merupakan syarat, tentu tidak sah i’tikaf beliau di waktu malam, karena pada waktu malam tidak ada puasa. Selain itu, i’tikaf dan puasa, keduanya merupakan ibadah yang terpisah, sehingga tidak disyaratkan keduanya harus ada bersamaan.

C. Waktu i’tikaf, yang disunnahkan, dan yang dibolehkan selama i’tikaf

1. Waktu i’tikaf
Berdiam di masjid sejenak dalam jangka waktu tertentu, itu adalah rukun i’tikaf. Apabila seseorang belum berada di masjid, maka belum dinamakan i’tikaf.

Adapun tentang lama waktu minimalnya, para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang sahih –insyaAllah- adalah bahwa i’tikaf sah dengan hanya beberapa jam, walaupun hanya sejenak. Namun afdholnya, i’tikaf itu sehari semalam. Hal ini dikarenakan belum pernah dinukilkan dari Nabi, tidak pula dari para shahabat, bahwa mereka pernah melakukan i’tikaf kurang dari itu.

Yang lebih afdhol lagi, apabila i’tikaf itu dilakukan di 10 hari terakhir bulan ramadhan; berdasarkan hadits Aisyah yang telah lalu, “Adalah Nabi senantiasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau” [HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1172]. Namun jika ia ingin beri’tikaf di selain waktu tersebut, boleh saja karena waktu tersebut hanya afdholnya saja.

Barang siapa yang ingin beri’tikaf di 10 hari terakhir bulan ramadhan, maka shalatlah subuhlah pada tanggal 21 Ramadhan di masjid yang dia niatkan untuk beri’tikaf, kemudian ia langsung mulai beri’tikaf di situ. Berakhirnya adalah ketika masuk waktu maghrib di hari terakhir ramadhan.

2. Yang disunnahkan
I’tikaf merupakan ibadah, yang dengannya seorang hamba menyendiri dengan Penciptanya, memutuskan keterikatan dengan selain-Nya. Oleh karenanya dianjurkan bagi orang yang beri’tikaf untuk
– Menyibukkan diri dengan ibadah
– Memperbanyak shalat, dzikir, dan doa
– Memperbanyak membaca Al Qur’an
– Memperbanyak taubat dan istighfar
Dan ibadah yang semisalnya yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

3. Yang diperbolehkan selama i’tikaf
Diperbolehkan bagi orang yang beri’tikaf untuk keluar masjid yang mau tidak mau harus keluar, seperti makan dan minum jika memang tidak ada yang mengantarkan. Mereka juga diperbolehkan keluar untuk buang hajat, wudhu, atau mandi junub.

Diperbolehkan juga berbincang-bincang dalam hal yang berfaidah dan menanyakan keadaan. Adapun perbincangan yang tidak berfaidah atau yang terdapat keburukan, maka ini menyalahi maksud dari i’tikaf dan bukan untuk itu i’tikaf disyariatkan.

Diperbolehkan bagi keluarga atau kerabatnya untuk mengunjunginya dan berbincang dengannya beberapa saat atau keluar untuk berpamitan dengan keuarganya. Ini berdasarkan hadits Shafiyyah r.a.h. ia berkata, “Rasulullah sedang beri’tikaf. Kemudian suatu malam aku mendatangi beliau dan berbincang dengan beliau. Setelah itu aku langsung bangkit dan pulang” [HR. Bukhari no. 2035 dan Muslim no. 2175]

Hendaknya orang yang beri’tikaf itu makan, minum, dan tidur tetap di dalam masjid, sembari tetap menjaga kebersihan masjid dan merawatnya.

D. Pembatal I’tikaf
I’tikaf menjadi batal karena sebab berikut.

1. Keluar dari masjid tanpa keperluan dengan sengaja,
walaupun hanya sebentar; berdasarkan hadits Aisyah r.a.h., “Bahwasanya ketika i’tikaf, Nabi tidak keluar kecuali karena ada hajat tertentu” [HR. Bukhari no. 2029]. Selain itu, keluarnya seseorang dari masjid itu meniadakan unsur berdiam diri di masjid. Padahal itu adalah rukun i’tikaf

2. Ber-jima’ (melakukan hubungan suami-istri),
walaupun hanya semalam atau dilakukan di luar masjid. Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
Dan janganlah kalian ber-mubasyarah dengan istri-istri kalian dalam keadaan kalian sedang beri’tikaf [QS. Al Baqarah 187]

Dan di antara hukum mubasyarah juga, melampiaskan syahwat walaupun dengan selain jima’, seperti onani atau berhubungan dengan istri walaupun bukan dengan kemaluan.

3. Hilangnya akal
I’tikaf dapat batal dengan sebab gila atau mabuk, karena orang gila dan mabuk keluar dari status orang yang beribadah.

4. Haid dan Nifas
Ini karena orang yang haid dan nifas tidak boleh berdiam diri di masjid.

5. Murtad
Murtad merupakan penggugur seluruh ibadah. Allah Ta’ala berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
Jika engkau berbuat kesyirikan, tentu akan gugurlah semua amalanmu [QS. Az Zumar 65]

Catatan kaki

  1. Ini adalah pendapat penulis kitab Fiqhul Muyassar. Dari pendapat ini, dapat dipahami bahwa seseorang telah bisa dikatakan beri’tikaf meski hanya duduk di masjid selama satu jam atau bahkan kurang dari itu. Namun, pendapat ini tidaklah kuat. Pendapat yang lebih kuat –inysaAllah-bahwa waktu i’tikaf minimalnya adalah sehari semalam dengan sebab sebagaimana yang dinyatakan penulis setelahnya, “tidak pernah dinukilkan dari Nabi dan para sahabatnya satu pun, bahwa mereka pernah i’tikaf kurang dari itu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s