Keutamaan Ilmu dan Orang-orang yang berilmu Berdasarkan As Sunnah

Penulis: Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr

Datang dalam sunnah, banyak hadits yang menunjukkan atas keutamaan ilmu syar’i secara umum, dan secara khusus keutamaan ilmu tentang kitabullah dan sunnah. Di antaranya adalah hadits,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscaya Allah akan menjadikahnya faqih dalam masalah agama. [Diriwayatkan oleh Bukhari no. 71 dan Muslim no 2389 dari sahabat Mu’awiyah]

Hadits di atas menunjukkan akan keutamaan orang-orang yang berilmu dan bahwasanya tanda-tanda seorang hamba dikehendaki kebaikan oleh Allah adalah pahamnya dia dalam perkara agama. Hal ini disebabkan dengan pemahamanya, dia dapat beribadah kepada Allah dan berdakwah kepada agama-Nya dengan ditegakkan di atas pengetahuan yang mendalam.

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dan barang siapa yang menempuh suatu perjalanan yang dengannya dia menimba ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di sebuah rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca di dalamnya Kitabullah dan saling memperdengarkannya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan dan mereka akan diliputi rahmat dan malaikat pun akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di antara makhluk-makhluk yang ada disisi-Nya (para malaikat). [Diriwayatkan oleh Muslim no. 6853 dari sahabat Abu Hurairah]

Ini juga merupakan dalil akan keutamaan ilmu dan keutamaan pengajaran Al Qur’an. Di dalamnya terdapat pula pelajaran bahwasanya balasan itu sesuai dengan jenis. Oleh karenanya, barang siapa yang menempuh perjalanan menuntut ilmu, maka Allah akan membalasnya dengan memudahkan baginya jalan yang menghubungkan dia ke surga.

Dan juga perkataan beliau shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Dan barang siapa yang menempuh suatu perjalanan yang dengannya dia menimba ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya karena ridho kepada para penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang alim itu, segala apa yang di langit dan apa yang dibumi memintakan ampunan untuknya, dan juga makhluk hidup yang ada di dalam lautan. Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim itu di antara hamba-hamba yang lainnya, laksana keutamaan bulan purnama dimalam hari di antara bintang-bintang. Dan sesungguhnya para nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil warisan tersebut, maka sungguh dia telah mengabil keuntungan yang amat besar nilainya. [Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3641 dan 3642, dan Tirmidzi no. 2682, dan Ibnu Majah no 223, dan selainnya dari sahabat Abu Darda’ dan telah disyarah oleh Al Hafizh Ibnu Rajab dalam sebuah juz tertentu]

Hadits di atas mencakup lima kebaikan sekaligus yang disebutkan. Salah satu di antaranya menyebutkan tentang keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu

Dan juga sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam,

ذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang mati, terputuslah darinya amalan-amalnnya kecuali tiga hal, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya [ Riwayat Muslim no. 4223 dari Abu Hurairah]

Di dalamnya terdapat petunjuk akan keutamaan ilmu dan orang yang memiliki ilmu dan bahwa ilmu itu dapat diwarisi baik dengan cara mengajarkannya atau dengan menuliskannya. Ilmu ini mirip dengan shadaqah jariyah yang mana manfaatnya akan tetap sampai kepada orangnya walaupun setelah kematiannya, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئً

Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginyalah pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka sedikit pun. Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ditimpakan atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa sedikitpun mengurangi dosa mereka. [Riwayat Muslim no. 2804 dari Abu Hurairah].

Abu Ishaq Al Albiri pernah bertutur,

وتُفقدُ إن جَهِلْتَ وأنت باقٍ 

Jika engkau bodoh, engkau akan dianggap tiada, meski hakikatnya engkau masih ada.

 وتوجدُ إن علمتَ ولو فُقدتا

Sebaliknya, engkau akan tetap dianggap ada jika engkau berilmu, meskipun engkau telah tiada.

Begitu pun Ibnul Qoyyim pernah menyatakan dalam bukunya Miftah Daarus Sa’adah halaman 149, “Orang yang berilmu itu setelah wafatnya memang mayat, tapi di antara manusia dia seakan-akan hidup. Adapun orang jahil, dalam kehidupannya dia memang hidup, tapi di antara manusia dia seakan-akan mati. Sebagaimana dikatakan penyair,

وفي الجهل قبل الموت موت لأهله

Kebodohan sebelum kematian sudah merupakan kematian.

 فأجسامهم قبل القبور قبور

Badan mereka sebelum dikubur hakekatnya adalah kuburan.

وأن امرأ لم يحي بالعلم ميــت

Kehidupannya berada dalam keterasingan pada badan.

 فليس له حتى النشور نشور

Sampai hari dibangkitkan pun tidak ada pada mereka kebangkitan.

Penyair yang lain berkata,

Sebuah kaum terkadang memang mati, tapi kemuliaannya tidaklah mati.

Dan kaum lain yang masih hidup tapi di tengah-tengah manusia, seakan sudah mati.

Ada juga yang mengatakan,

Terkadang seorang hamba itu tetap diingat orang dengan keutamaan-keutamaan.

Maka, itulah kehidupan baginya walaupun ia sudah berada dalam kuburan

Barang siapa yang mencermati keadaan para imam-imam Islam, imam dalam bidang hadits maupun fikih, bagaimana mereka yang sudah berada dibawah tanah, tetapi di alam ini mereka seakan masih hidup di antara manusia, tidak hilang begitu saja kecuali sekedar fisiknya saja yang hilang. Atau jika tidak, orang-orang selalu menyebut-nyebut hadits mereka dan selalu memuji-muji mereka tanpa henti-hentinya. Inilah kehidupan yang hakiki, sehingga setelah di kehidupannya yang kedua (akhirat), pujian itu pun kembali mereka dapatkan, sebagaimana Al Mutanabbi pernah berkata,

seorang disebut-sebut saat kehidupannya yang kedua dan .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s