Pembahasan Seputar Bejana (Aniyah)

Al ‘Aniyah yaitu wadah tempat ditampungnya air atau yang lainnya, baik terbuat dari besi atau bahan lain. Hukum asalnya, bejana ini adalah mubah/boleh berdasarkan firman Allah Ta’ala

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dan dialah yang menjadikan untuk kalian segala yang dimuka bumi” [QS. Al Baqarah 29]

Penggunaan Bejana Emas, Perak, dan Selainnya dalam Keadaan Suci

Diperbolehkan menggunakan seluruh jenis bejana untuk makan dan minum dan segala macam pemakaian apabila bejana tersebut suci dan mubah, meski sangat mewah/mahal, dikarenakan tetapnya ia pada hukum asalnya, yakni mubah/boleh, selain dari bejana emas dan perak. Hal ini dikarenakan bejana emas dan perak haram dipakai untuk makan dan minum secara khusus. Adapun untuk pemakaian lainnya, maka boleh; berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

ا تشربوا في آنية الذهب والفضة ولا تأكلوا في صحافها فإنها لهم في الدنيا ولكم في الآخرة

Jangan kalian minum di bejana yang terbuat dari emas dan perak dan jangan makan di piringnya juga karena sesungguhnya bejana tersebut untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat (nanti)” [HR. Bukhari no. 5426 dan Muslim no. 2067]

Dan juga sabda beliau shallallahu alaihi wasallam,

الذي يشرب في آنية الفضة إنما يجرجر في بطنه نار جهنم

Orang yang minum di bejana perak akan dituangkan pada perutnya api neraka” [HR. Bukhari no. 5634 dan Muslim no. 2065]

Itulah nash tentang diharamkannya makan dan minum dengan jenis bejana tersebut, selain dari keperluan pemakaian yang lain, sehingga nash ini sekaligus menunjukkan bolehnya menggunakan bejana tersebut untuk bersuci. Larangan pada nash tersebut bersifat umum; mencakup bejana yang murni (dari emas/perak), maupun dilapisi dengan emas/perak, atau sekedar terdapat padanya sesuatu dari emas/perak.

Hukum Penggunaan Bejana yang Disambung dengan Emas/Perak

Apabila sambungannya terbuat dari emas, maka memakainya haram secara mutlak berdasarkan keumuman nash. Adapun apabila sambungannya terbuat dari perak dan kadarnya ringan, maka boleh memakai bejana tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Anas radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Gelas Rasulullah saw pecah, kemudian beliau mengambil sambungan dari perak” [HR. Bukhari no. 3109]

Hukum Bejana Orang Kafir

Hukum asalnya, bejana orang kafir adalah halal. Namun apabila diketahui kenajisannya, maka tidak boleh memakainya kecuali setelah dicuci. Hal ini berdasarkan hadits Abu Tsa’labah Al Khusyani; dia berkata,

قلت يا رسول الله إنا بأرض قوم أهل كتاب، أفنأكل في آنيتهم؟ قال: (لا تأكلوا فيها إلا أن لا تجدوا غيرها فاغسلوها، ثم كلوا فيها

Aku pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di bumi ini ada sebuah kaum dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani -pen), apakah kita boleh makan dengan bejana mereka?” Beliau menjawab, “Jangan makan disitu kecuali jika kalian tidak dapatkan selainnya, maka cucilah bejana tersebut. Kemudian makanlah dengannya” [HR. Bukhari no. 5478 dan Muslim no. 1930]

Adapun apabila tidak diketahui najis atau tidaknya bejana tersebut, dengan tidak diketahuinya secara nampak najis atau tidaknya pemiliknya, maka boleh menggunakannya.

Hal ini dikarenakan telah tsabit bahwasanya Nabi saw dan para shahabatnya mengambil air untuk berwudhu dari botol air milik seorang wanita musyrik[1]. Selain itu, juga dikarenakan Allah Subhanahu telah membolehkan bagi kita makanan orang-orang Ahlul Kitab. Dan telah mendahului kita tentang masalah bejana orang kafir ini, sebagaimana ajakan seorang pelayan Yahudi terhadap Nabi saw untuk makan roti gandum dan beliau menerima undangannya kemudian makan darinya[2].

Bersuci dengan Bejana dari Kulit Bangkai

Kulit bangkai yang telah disamak suci dan boleh bersuci menggunakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

أيما إهاب دبغ فقد طهر

Kulit bangkai (ihab) apabila telah disamak maka itu suci. [HR. Tirmidzi no. 1650 dan Muslim no. 366 dengan lafazh “Apabila kulit bangkai telah disamak maka itu suci” dari Ibnu Abbas]

Selain itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga pernah melewati sebuah bangkai domba kemudian bersabda,

هلَّا أخذوا إهابها فدبغوه فانتفعوا به ؟ فقالوا: إنها ميتة. قال: فإنما حَرُمَ أكلُهَا

Tidakkah kalian mau mengambil kulitnya kemudian menyamaknya lalu memanfaatkannya?” Para shahabat menjawab, “Sesungguhnya itu adalah bangkai”. Kemudian beliau bersabda, “Hanya saja yang diharamkan adalah memakannya” [HR. Muslim no. 363 dan Ibnu Majah no. 3610]

Ini jika bangkainya adalah hewan yang boleh dimakan. Apabila bukan, maka hal tersebut tidak berlaku.

Air bekas minum hewan tersebut suci, yakni air bekas minum dari hewan yang boleh dimakan dagingnya. Adapun daging bangkainya, ia tetap najis dan haram dimakan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala

إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

kecuali bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi, karena sesungguhnya itu adalah najis [QS. Al An’am 145]

Penyamakan dapat dilakukan dengan membersihkan gangguan dan kotoran-kotoran yang terdapat pada kulit bangkai tersebut dengan sarana bahan yang dapat larut dengan air, seperti garam dan lain-lain. Atau dapat juga dengan tanaman yang telah dikenali seperti qarazh, jinten, atau yang semisalnya.

Adapun apapun yang tidak menjadi halal dimakan, maka dia tidak suci. Atas dasar inilah, kulit kucing dan yang selainnya yang sejenis, tidaklah menjadi suci dengan penyamakan. Kendati pun hewan tersebut ketika hidup terhitung suci, maka bangkainya tetaplah tidak suci (walau dengan penyamakan -pent).

Ringkasnya: Setiap hewan yang mati (secara bangkai/tidak disembelih secara syar’i -pent) dan dia dari jenis yang halal dimakan dagingnya, maka kulitnya suci dengan penyamakan. Adapun setiap hewan yang mati (bangkai -pent) dan dia bukan dari jenis yang halal dimakan dagingnya, maka kulitnya tidaklah suci (meski) dengan penyamakan.

Dialihbahasakan dari kitab Alfiqhul Muyassar

Footnote:

[1] HR. Bukhari dalam kitab Tayammum bab Debu yang Bagus no. 344 dan Muslim dalam Kitab Al Masajid bab Mengqadha Shalat yang Terakhir no. 682

[2] HR. Ahmad 3/210 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al Irwa’ (1/71)

(3) أخرجه أحمد (3/210، 211). وصححه الألباني في الإرواء (1/71) والإهالة: الشحم والزيت. والسنخة: المتغيرة الريح.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s