Buang Hajat dan Etika-etikanya

Istinja dan Istijmar

Istinja yaitumembersihkan yang keluar dari dua saluran pembuangan kotoran menggunakan air, sedangkan Istijmar yaitu mengusapnya dengan benda suci yang mudah ditemukan, seperti batu dan sejenisnya. Yang satu dapat diterima dari yang lainnya (saling menggantikan), sebagaimana hal itu disebutkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dari Anas radhiyallahu anhu, dia berkata,

كان النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يدخل الخلاء، فأحمل أنا وغلام نحوي إداوة من ماء وعنزة، فيستنجي بالماء

Nabi shallallahu alaihi wa sallam masuk buang hajat. Kemudian aku dan seorang pelayan membawakan sebejana air dan kayu tombak, maka beliau pun ber-istinja’ dengan air.” [HR. Muslim no. 271, idawah: bejana dari kulit]

Dan dari Aisyah radhiyallahu anha, dari nabi shallallahu alaihi wasallam,

إذا ذهب أحدكم إلى الغائط، فليستطب بثلاثة أحجار، فإنها تُجزئ عنه

Jika salah seorang di antara kalian pergi buang hajat, maka berceboklah dengan tiga batu, karena yang demikian itu sudah cukup diterima [HR. Ahmad 6/108, dan Daruquthni no. 144, dia berkata: sanadnya shahih]

Yang paling utama adalah menggabungkan keduanya (istinja dan istijmar). Istijmar sendiri dapat dilakukan dengan batu atau apapun yang dapat menggantikan fungsi batu, dari benda-benda yang suci yang mudah ditemukan, seperti tisu, kertas, kayu, atau yang semisalnya. Ini karena Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah ber-istijmar dengan batu kemudian diikuti dengan yang semisal dengan itu dari jenis tulang.

Istijmar tidak diterima jika kurang dari tiga usapan berdasarkan hadits Salman radhiyallahu anhu,

نهانا يعني النبي (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)- أن نستنجي باليمين، وأن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار، وأن نستنجي برجيع أو عظم

Nabi shallallhu alaihi wa sallam melarang kami dari beristinja menggunakan tangan kanan dan dari beristinja kurang dari tiga batu, dan dari beristinja menggunakan kotoran hewan atau tulang” [HR. Muslim no. 262]

Menghadap dan Membelakangi Kiblat saat Buang Hajat

Tidak boleh menghadap kiblat ataupun membelakanginya ketika sedang buang hajat di tempat terbuka tanpa penghalang, berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إذا أتيتم الغائط فلا تستقبلوا القبلة، ولا تستدبروها، ولكن شَرِّقوا أو غَرِّبوا

Apabila salah seorang dari kalian buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, akan tetapi berpalinglah ke timur atau ke barat.

Kemudian Abu Ayyub berkata,

فقدمنا الشام، فوجدنا مراحيض قد بُنيت نحو الكعبة، فننحرف عنها، ونستغفر الله

Kami pernah berjalan ke Syam dan kami dapati sebuah WC yang pernah kami bangun menghadap Ka’bah. Kemudian kami pun memalingkannya dan kami memohon ampun kepada Allah” [HR. Bukhari dalam Kitab AL-Wudhu no. 144 dan Muslim no. 264]

Adapun apabila jika buang hajatnya itu di dalam bangunan atau antara dia dengan kiblat ada sesuatu yang menghalanginya, maka tidak mengapa yang demikian itu. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma,

أنه رأى رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يبول في بيته مستقبل الشام مستدبر الكعبة

Bahwa ia pernah melihat Rasulullah shallallahu alihi wa salllam kencing di dalam rumahnya menghadap Syam dan membelakangi Ka’bah [HR. Bukhari no. 148 dan Muslim no. 266]

dan berdasarkan hadits Marwan al Asghar. Ia berkata, “Aku mendapati Ibnu Umar di atas untanya menghadap kiblat. Kemudian dia duduk dan kenci menghadap kiblat.” Lalu aku pun berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, bukankah yang demikian itu dilarang?” Ia berkata,

بلى إنما نهي عن هذا في الفضاء، أما إذا كان بينك وبين القبلة شيء يسترك فلا بأس

Tidak. Hanya saja yang dilarang adalah di luar ruangan . Adapun apabila di antaramu dan kiblat ada sesuatu yang menghalangi maka tidak mengapa” [HR. Abu Dawud no. 11, Daruquthni mo. 158, dan redaksinya milik beliau. Sanadnya shahih, lihat Shahih Ibnu Majah 1/60]

Meski begitu, lebih utamanya adalah meninggalkan yang demikian itu (menghadap atau membelakangi kiblat) kecuali apabila di dalam bangunan. Wallahu a’lam.

Yang Disunnahkan ketika Buang Hajat

Disunnahkan bagi orang yang hendak masuk WC mengucapkan,

بسم الله اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث

Bismillaahi allahummaa innis a’uudzubika minal khubutsi wal khobaa’its (Artinya: Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan lak-laki dan setan perempuan)

dan ketika telah keluar mengucapkan,

غفرانك

Ghufroonaka (Artinya: aku memohon ampunan-Mu)

Disunnahkan pula mendahulukan kaki kiri ketika masuk dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar. Hendaklah tidak membuka auratnya sampai ia mendekat ke bawah.

Apabila buang hajatnya di tempat terbuka, maka dianjurkan untuk menjauh dan menyembunyikan diri sampai tidak terlihat oleh orang lain. Dalil-dalil semua ini adalah hadits Jabir radhiyallahu anhu. Ia berkata,

خرجنا مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في سفر وكان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يأتي البراز حتى يتغيب فلا يُرى

kami keluar bersama Rasululllah shallallahu alihi wa sallam pada sebuah safar, dan beliau tidaklah mendatangi tempat buang hajat sampai beliau absen kemudian tidak terlihat. [HR. Abu Dawud no. 2 dan Ibnu Majah no. 335 dan redaksinya dari beliau. Sanadnya shahih. Lihar Shahih Ibnu Majah 1/60]

Demikian pula hadits Ali radhiyallahu anhu, bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

ستر ما بين الجن وعورات بني آدم إذا دخل الخلاء، أن يقول: بسم الله

penghalang antara jin dengan aurat bani adam ketika ia buang hajat adalah apabila ia mengucapkan “bismillah” [HR. Ibnu Majah no. 297 dan Tirmidzi no. 606. Dihasankan oleh Ahmad Syakir dalam Hasyiah At-Tirmidzi dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Jami’us Shaghir no. 361]

Demikian pula hadits Anas radhiyallahu anhu, “Apabila Nabi shallallahu alalihi wa sallam masuk WC, maka beliau mengucapkan:

اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث

Allahumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khobaa’its (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan)” [HR. Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375]

Demikian pula hadits Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata:

كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا خرج من الخلاء قال: غفرانك

Adalah beliau shalllallahu alaihi wa sallam apabila keluar dari WC, beliau mengucapkan “Ghufroonaka” (Kumemohon ampunan-Mu)” [HR. Abu Dawud no. 17 dan Tirmidzi no. 7. Beliau berkata, “Hasan ghorib”. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’us Shaghir 4707]

Demikian pula hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, berliau berkata:

أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان إذا أراد الحاجة لا يرفع ثوبه حتى يدنو من الأرض

Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila hendak buang hajat, beliau tidaklah menyingsingkan pakaiannya sampai beliau mendekat ke bawah” [HR. Abu Dawud no. 17 dan Tirmidzi no. 14 dan dishahihkan oleh Al-Albani. Lihar Shahih Jami’ush Shaghir no. 4652]

 Yang Dilarang ketika Buang Hajat

Dilarang mengencingi air yang tidak mengalir, berdasarkan hadits Jabir dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

أنه نهى عن البول في الماء الراكد

Bahwasanya beliau (Nabi) melarang kencing di air yang tidak mengalir” [HR. Muslim no. 281 dan yang mirip dari Bukhari no. 239. Ar-Rakid artinya air tenang yang tidak mengalir]

Jangan pula menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan ketika sedang kencing dan jangan bercebok (ber-istinnja’) dengannya. Hal ini dikarenakan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

إذا بال أحدكم فلا يأخذن ذكره بيمينه، ولا يستنجي بيمينه

Apabila salah seorang dari kalian kencing, janganlah memegang kemaluannya dengan tangan kanannya dan jangan pula bercebok dengannya. [HR. Bukhari no. 154; redaksinya milik beliau, dan Muslim no. 267]

Selain itu, diharamkan pula kencing atau buang air besar di jalanan, di bawah naungan, di taman umum, atau di bawah pohon yang berbuah, atau di tempat sumber air, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muadz. Dia berkata: Rasululllah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اتقوا الملاعن الثلاث: البراز في الموارد، وقارعة الطريق، والظل

Hati-hatilah kaliah dari tiga tempat yang dilaknat: buang hajat di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan. [HR. Abu Dawud no. 26 dan Ibnu Majah no. 328. Sanadnya hasan, lihat Irwa’ul Ghalil 1/00]

Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi bersabda,

اتقوا اللاعنين، قالوا: وما اللاعنان يا رسول الله؟ قال: (الذي يَتَخَلى في طريق الناس أو في ظلهم

Hati-hatilah kalian dari dua laknat”. Para shahabat lalu bertanya, “Apa dua laknat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang kencing di jalanan orang-orang atau di bawah naungan mereka” [HR. Muslim no. 269]

Sebagaimana juga diharamkan ketika kencing: membaca Al-Quran , ber-istijmar dengan kotoran hewan, tulang, makanan, atau benda berharga, berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu anhu,

Nabi shalllallahu alaihi wa sallam melarang mengelap (kencing atau kotoran) dengan tulang atau kotoran hewan” [HR. Muslim no. 263]

Diharamkan juga buang hajat di antara pekuburan kaum Muslimin. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا أبالي أوسط القبور قضيت حاجتي، أو وسط السوق؟

Tidak ada bedanya buruknya, kencing di tengah-tengah pekuburan atau di tengah-tengah pasar. [HR. Ibnu Majah no. 1567. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa 1/102]

Yang Dibenci ketika Buang Hajat

Dibenci ketika buang hajat, menghadap ke arah bertiupnya angin tanpa keperluan kalau-kalau kencinya dapat berpaling ke arahnya.

Dibenci juga berbicara karena seseorang pernah menjumpai Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedangkan beliau sedang kencing. Orang tersebut memberi salam kepada beliau, namun beliau tidak menjawabnya. [HR. Muslim no. 370]

Dibenci juga kencing pada lubang/irisan tanah atau yang semisalnya, berdasarkan hadits Qatadah dari Abdullah bin Sarjas,

أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نهى أن يبال في الجُحْر

Bahwasanya Nabi shalllallahu alaihi wa sallam melarang kencing pada liang”

Ada yang berkata kepada Qatadah, “Ada apa dengan liang?” Dia menjawab, “Dikatakan bahwa itu adalah tempat tinggal jin” [HR. Abu Dawud no. 29 dan Nasai no. 24. Ibnu Hajar menukilnya dalam Takhlish 1/106. Pen-shahih-annya dari Ibnu Khuzaimah dan Ibnus Sakan. Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “keadaan minimalnya adalah hasan” (Syarhul Mumti’ 1/95-96)]

Hal ini juga karena dikhawatirkan kalau-kalau di dalamnya ada hewan atau di dalamnya ada jin, sehingga kencingnya akan mengganggunya.

Dibenci juga masuk ke WC dengan membawa sesuatu yang tertulis nama Allah kecuali dengan keperluan tertentu, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

كان إذا دخل الخلاء وضع خاتمه

Apabila beliau masuk WC, beliau menanggalkan cincinnya” [HR. Abu Dawud no. 19 dan Tirmidzi no. 1746, Nasai no. 5228, dan Ibnu Majah no. 303. Abu Dawud setelah mengeluarkannya berkata, “Ini hadits munkar” dan Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib”]

Adapun jika ada keperluan atau dalam keadaan darurat maka tidak mengapa. Contohnya seperti masuk WC dengan kertas-kertas kwitansi yang terdapat padanya nama Allah. Jika dia meninggalkannya, maka rentan terhadap pencurian atau ketinggalan.

Adapun soal mushaf Al Quran, maka jelas dilarang dibawa masuk, sama saja apakah secara terbuka ataupun tersembunyi. Alasannya adalah bahwa itu adalah firman Allah, dan merupakan semulia-mulia ucapan. Sedangkan, masuknya Al-Quran ke dalam WC termasuk dari jenis penghinaan.

-Dialihbahasakan dari kitab Alfiqhul Muyassar.-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s